Sudah mendekati sepuluh tahun kami menempati rumah tinggal kami yang sekarang. Posisi pinggir desa membuat suasana cenderung sepi, jauh dari hingar bingar. Ini adalah lingkungan masa kecilku, tempat aku dilahirkan dan sampai sekarang aku berkeluarga. Banyak kenangan yang senantiasa tak sulit untuk dikenang kembali, termasuk kenangan masa kecilku dulu.
Waktu berlalu. Saat memutuskan harus membangun tempat
tinggal di tempat yang sekarang, terbersit rasa bangga. Aku masih mengingat
jelas, tatkala almarhuma masih hidup, tempat ini adalah tempat favorit
keluarga, karena banyak tanaman rambutan yang ditanam disini. Sehingga dulu
dikenal dengan kebun rambutan. Dan suatu kali almarhumah ibu mengatakan, nanti
aku akan membangun rumah di kebun rambutan ini. Dulu hal itu hanya sebatas perkataan atau kalimat yang tidak
terlalu berarti bagiku. Aku belum sampai pada ke pemikiran tentang keluarga, rumah,
dan sebagainya. Namun itu ternyata lekat diingatanku.
Ibu kini sudah tiada. Jangankan untuk melihatku membangun
rumah dengan jerih payah aku dan istriku kumpulkan. Melihat siapa pendamping
hidup pilihanku saja beliau tak sempat. Janji Tuhan sudah sampai tatkala aku
hanya mampu untuk bekerja di tempat kursus computer, tentunya dengan pendapatan
yang seadanya. Namun aku bersyukur, dari sinilah semuanya bermulai, sampai aku
memiliki apa yang aku punya sekarang.
Namun, aku akan selalu mengingat itu. Dari kebun rambutan
dengan pohon demi pohon yang masing-masing memiliki arti bagi kami. Dan itu
harus ada yang ditebang satu demi satu untuk mendirikan sebuah rumah sederhana.
Namun bukan berarti kenangan bersama ibu tercinta harus ikut hilang. Kami akan
tetap mengenang itu.Dan tempat tinggal itupun sudah berdiri sekarang.
Sebuah rumah sederhana kami dirikan tentunya dengan keringat
dan air mata. Kami sudah mendapatkan apa
yang disebut dengan baiti jannati… kami akan merasa berada di surga ketika
sudah sampai di rumah. Rumah yang kami sayangi. Rumah tempat berbagi cerita suka
dan duka. Rumah tempat merangkai harapan dan mimpi. Rumah yang akan menjadi
tempat kami menghabiskan masa tua kami.
Doapun dirangkai pada saat selamatan menunggu rumah ini. Kamiberharap
rumah ini akan membawa kebajikan bagi
kami, dan jika bisa akan membawa kabaikan bagi orang lain juga. Akhirnya ada
pemikiran yang tidak ada dalam pikiran kami, teman-teman di kampung tempat kami tinggal ini menghendaki agar rumah kami menjadi
semacam tempat bertemu teman-teman untuk menimba ilmu agama. Suatu rencana
besar dan sangat diluar pikiranku
Akhirnya dnegan kesepapakatan bersama, kami menjadi rumah ini sebagai
tempat belajar mengaji. Kelompok Pengajian Al-Kautsar akhirnya berdiri, dan
rumah ini adalah saksi hari demi hari, minggu, bulan dan akhirnya sampai ke
tahun dimana kelompok sederhana ini belajar mengaji dengan segala
kekurangannya. Aku sangat mensyukuri ini.
Kini setiap malam selasa kami akan berkumpul. Mengaji bertadarus.
Berharap apa-apa yang dilakukan akan membawa kebajikan bagi diri sendiri,
keluarga dan orang lain. Waktu berlalu, tahun ke empat pun dijejaki, semoga
pengajian ini akan terus ada, semoga semangat itu akan terus ada, semoga
harapan mulia itu akan menjadi kenyataan.
Alhamdulillah dalam lingkup kecil rumah kami juga sudah dapat dinikmati dan dapat
berarti bagi orang lain. Tentunya dengan segala kekurangannya….


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.